oleh : Wayan Agus Yudiana, ST

Berjalan aku menuju undakan tempat dia duduk di pelataran Sanggah (sebuah area suci tempat pemujaan di Bali, yang biasanya terletak di timur laut area rumah). Dengan sebuah tongkat berukiran kepala naga sebagai gagangnya, dia menumpukan semua keletihan hidupnya. Keletihan yang hanya tertera pada jasmani saja, karena belakangan aku mengerti level kesempurnaan yang dia dapatkan lebih dari 90 tahun perjalanan hidupnya. Aku masih ingat umurku baru menginjak 17 tahun, karena hari sebelumnya aku ingat betul itu pertama kalinya jatuh cinta dengan seorang gadis yang aku kenal di bangku sekolah, yang terhitung anak baru karena merupakan pindahan dari Denpasar. Namun sekarang aku lebih merenungi hari dimana sebuah pertanyaan aku lontarkan ke hadap kakekku, dan mendapat jawaban yang tak bisa aku terima saat umur ku masih 17 tahun tersebut.
Aku : “Pekak, ajain Agus agama!” (kakek ajari agus agama)
Kakek : “Ape to Agama??” (apa itu agama)
Aku : *Kaget* “Agama Hindu!”
Kakek : “Mih Pekak sing nawang keto2an!” (Kakek gak tau yang begitu begituan)
Aku : “Lohh Pekak bukane agama Hindu?” (Bukannya Kakek Agama Hindu??)
Kakek : “Pekak sing mesekolah gus, sing be nawang ape to Agama Hindu”(Kakek gak bersekolah gus, kakek gak tahu apa itu agama hindu), dilanjutkan dengan sebuah senyum yang gak akan pernah aku lupakan, karena itu adalah senyum kasih sayang terindah dan juga merupakan “senyum terakhir” untuku darinya.
Saat itu aku merasa kecewa bahwa ada anggota keluargaku yang sama sekali tidak mengenal agama, walau sedikit maklum karena beliau memang tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Tapi belakangan “Dunia Luar” membwa aku kembali pada renungan itu, renungan sehari sebelum dia benar-benar pergi meningalkan sebuah arti dalam hidupku sekarang ini. Kenyataan bahwa selama hidupnya dia tak pernah tau kalau apa “Label” dari agama yang dia anut, sedikit mengecewakan pada saat aku masih bisa melihat wajahnya, namun sekarang, hal itu membuat aku sangat terkagum-kagum dengan generasinya dimana kebanyakan memang tidak mengenyam bangku sekolah formal. Generasi dimana ajaran Bhakti Marga (jalan Bhakti) lebih mengutama dibanding teori-teroi formal yang hanya menjadi bualan semata. Generasi dimana keikhlasan berbakti tidak mengenal jarak, waktu apalagi hasil. Mereka berjalan beberapa hari menuju sebuah Pura yang sedang menyelenggarakan Upacara dengan keikhlasan. Mereka berkreasi meningalkan karya-karya yang dinikmati generasi sekarang, padahal awalnya adalah untuk mengungkapkan rasa Cinta hanya kepada-Nya. Sekali lagi tanpa peduli apa “label” ajaran yang mereka anut saat itu dan balasan apa yang mereka idamkan dari pengorbanan dalam bakti mereka. Namun, sebenarnya dalam ketidaktahuan tersebut, mereka telah melangkahkan kaki meniti tangga yang lebih tinggi dalam kesempurnaan hidup mereka.
Ajaran keikhlasan tanpa pamrih yang belakangan menjadi pegangan dan fondasiku dalam menjalankan hidup yang masih berantakan ini, tanpa mempedulikan orang lain menyebutnya apa. Hanya ingin meresapi inti dari pemahaman tersebut dalam diri.
Terima kasih Engkau telah menyempatkan diri “mengajarkan aku Agama” sehari sebelum dirimu pergi untuk selamanya, terima kasih untuk kesempatan aku untuk “belajar” dari “penjelasanMu yang tanpa untaian kata-kata”, yang membuat aku merenung selama ini dan tetap akan merenung untuk makna yang lebih dalam. Aku tidak tahu apakah engkau sengaja menunjukan kepadaku bahwa engkau tidak mengerti, untuk melatihku, mengingat banyaknya Lontar suci dan reputasi sebagai orang yang “dituakan dalam spiritual”, yang engkau tingalkan, atau memang engkau tak tahu. Tapi satu yang pasti “KetidaktahuanMu” membuat aku mengerti membuat aku tetap belajar mencari, menuntunku memasuki kehidupan dan hati nurani.
Terima kasih Pekak.. “Aku yakin Engkau telah mencapai “Kebahagian Abadi” kembali bersama-Nya”
sumber